MEMBANGUN RELEGIOS CULTUR DI SEKOLAH

 

BANDUNG, DITPAIS – Dalam upaya menghasilkan tamatan sekolah yang memiliki ilmu, cerdas, kratif dan berakhlak mulia sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu terwujudnya bangsa Indonesia yang cerdas, kreatif dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maka dalam prosesnya penyelenggaraan pendidikan tidak dapat menekankan pada salah satunya. Akan tetapi harus bersinergi antara pendidikan agama dengan pendidikan nasional. “Pendidikan yang berorientasi pada pembentukan manusia robot, dan mesin serta materialis hendaknya dikembalikan kepada tujuan diciptakannya manusia yakni untuk beribadah kepada Allah. Dengan kata lain orientasi pendidikan kita harus berpusat pada nilai ketuhanan yang merupakan core pendidikan nasional”. jelas Iis Suryatini, M.Ag guru PAI di SMPN 1 Ciparay Kabupaten Bandung Jawa Barat dalam makalahnya.

Menurut Iis, untuk tercapainya hasil (out put) dari proses pendidikan yang mumpuni yakni manusia-manusia yang beriman, berilmu dan berakhlak mulia tersebut maka kerjasama semua pihak menjadi sebuh prasyarat yang mutlak. Guru agama Islam harus bekerjasama dengan guru pada mata pelajaran lain, kepada kepala sekolah bahkan juga kepada wali murid untuk menanamkan nilai-nilai agama pada peserta didik. “semua pihak yang terkait di lingkungan sekolah, melakukan berbagai upaya secara bersama-sama untuk menginternalisasikan nilai-nilai agama bagi pembentukan pribadi siswa. Sebab hal ini merupakan tanggung jawab bersama antara orangtua, guru dan masyarakat sekitar”. Terangnya

Iis menjelaskan, penginternalisasian nilai-nilai agama Islam kepada siswa harus dengan membangun relegios cultur disekolah. Untuk membangunnya ada tiga katagori pendekatan yang dapat digunakan. Pertama, melalui kegiatan intrakulikuler. Kedua,kegiatan ekstrakulikuler. Ketiga, melalui pembiasaan keagamaan disekolah. “Ketiga katagori inilah yang saya gunakan disekolah” tuturnya

Pada intrakulikuler yang kegiatannya berada dikelas dalam jam formal belajar mengajar, proses internalisasi dapat dilakukan oleh guru pada mata pelajaran non agama dengan mengaitkan pokok bahasan/sub pokok bahasan masing-masing mata pelajaran dengan nilai-nilai keagamaan, menyelaraskan konsep ilmu pengetahuan dan teknologi dengan nilai agama, dan menanamkan kesadaran dan keyakinan kepada siswa, bahwa Allah swt telah menetapkan prinsip-prinsip keteraturan alam semesta (sunatullah/hukum alam), misalnya kewajiban menutup aurat bagi perempuan dan gaya hidup hedonis lainnya. “kegiatan ini telah saya lakukan dengan mengajak para guru mata pelajaran lain untuk terus senantiasa menanamkan nilai-nilai agama dalam proses belajar mengajarnya” katanya

Sedangkan dalam ekstrakulikuler, Iis menggabungkan kegiatan Rohis di sekolahnya dengan organisasi GEMMA (Generasi Muda mesjid Al Furqon). Selain itu, Ia juga memasukan seluruh kegiatan yang ada dengan nilai-nilai agama. Misalnya ekstrakurikuler seni yang di dalamnya mengembangkan lagu-lagu nuansa islami, kegiatan jurnalis yang diisi dengan artikel-artikel Islami. “Hal tersebut terbukti efektif untuk membimbing siswa ke arah perilaku positif untuk mencapai tahapan-tahapan perkembangan kepribadian siswa yang matang dan kaffah” ceritanya.

Sementara pada kegiatan pembiasaan keagamaan, Iis telah menerapkan beberapa program yang dilakukan secara terus-menerus, diantaranya membiasakan untuk membaca doa baik sebelum maupun sesudah belajar, membiasakan tadarusan tiap pagi surat-surat pendek sebelum jam pelajaran pertama yang dipandu oleh guru yang mengajar pada jam pelajaran pertama, pembiasaan mengucapkan salam kepada guru dan teman khususnya dilingkungan sekolah, membiasakan siswa-siswi menggunakan busana muslim, shalat berjama�ah, latihan dakwa untuk siswa, ceramah pagi tiap hari jum�at yang diisi oleh guru agama Islam, guru mata pelajaran lain ataupun mendatangkan dari luar sekolah.

Menurut Iis, sekolah merupakan tempat latihan melaksanakan etika-etika dan tatacara yang harus dipatuhi, mempunyai sanksi kurikuler terhadap siswa, sehingga dengan demikian perlu adanya pembinaan kebiasaan-kebiasaan atau etika yang baik dan mudah-mudahan menjadi kepribadian siswa baik di dalam sekolah maupun luar sekolah. Demikian katanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s