Harapan Dengan Adanya Pendidikan Karakter

Mimpi tentang Pendidikan Karakter

OPINI | 22 July 2011 | 07:42 112 5 Nihil


Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 18 Juli, di Kota Solo, dicanangkan implementasi pendidikan karakter (IPK).  Pencanangan dilakukan oleh Dirjen Pendidikan Menengah Kemendiknas, Baedhowi.  SK Walikota Solo No 421/2.421 tentang Pendidikan Karakter Peserta Didik di Sekolah menjadi  dasar regulasi  IPK di Kota Solo.

SK itu berlaku efektif  pada Tahun Pelajaran 2011/2012 di seluruh sekolah di Kota Solo. IPK harus dilaksanakan di tingkat SD, SMP, SMA dan SMK serta yang sederajat. Semua sekolah di Kota Solo wajib memperkenalkan dan mengimplementasikan pendidikan karakter, tanpa kecuali. IPK ini merupakan program nasional. Di daerah lain juga dicanangkan.

Pola IPK yang diinginkan berdasarkan SK walikota itu adalah setiap sekolah melakukan implementasi pendidikan karakter secara nyata, berkelanjutan dan berkesinambungan dalam tataran operasional di lingkungan sekolah baik melalui kegiatan ekstrakurikuler, mata pelajaran, proses pembelajaran dan pembiasaan perilaku keseharian.

Dari substansi isi SK Walikota Solo itu jelas bahwa pendidikan karakter harus menjadi budaya dalam proses pembelajaran di sekolah yang didukung oleh keluarga serta lingkungan. Konsep “pembiasaan perilaku keseharian” jelas tak bisa disandarkan hanya pada proses pembelajaran di sekolah. Perilaku keseharian akan tercipta justru dengan dukungan seluruh lingkungan di mana siswa berinteraksi dengan manusia lainnya. Artinya IPK itu hanya akan memanifes, menjadi kenyataan, ketika dilaksanakan di keluarga, lingkungan dan sekolah.

Artinya, IPK sebenarnya–menurut saya–sesuatu yang berat dalam konteks keindonesiaan kita saat ini. Sebuah tulisan di Kompas Cybermedia menyatakan pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966). Pendidikan karakter merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan.

Tujuan pendidikan dalam konsep IPK adalah untuk membentuk  karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subjek–siswa– dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Menurut Foerster, karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman yang selalu berubah. Dari kematangan karakter inilah, kualitas seorang pribadi diukur.

Masih dari tulisan di Kompas Cybermedia itu, menurut  Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter. Pertama, keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. Nilai dalam konteks IPK di Solo–menurut saya–jelas tak lepas dari konteks akar budaya, yaitu Jawa. Dengan demikian, konsep IPK ini tataran praktisnya bisa berbeda-beda di daerah berdasarkan konteks akar budaya daerah itu. Yang menjadi penyatu–mungkin–adalah keindonesiaan kita.

Kedua, koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang. Ketiga, otonomi. Seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain.

Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih. Kematangan keempat karakter ini memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas.

Tradisi pendidikan kita rasanya jauh panggang dari api untuk merealisasikan IPK berbasis ide Foerster itu. Kebiasaan berpikir kritis–yang berbasis pembebasan siswa– melalui pendasaran logika yang kuat dalam setiap argumentasi belum menjadi habitus di dunai pendidikan kita. Guru hanya mengajarkan apa yang harus dihapalkan dengan mengacu kurikulum. Tak ada inovasi demi mewujudkan IPK berbasis ide Foerster itu. Guru membuat anak didik menjadi peniru. Guru memosisikan anak didik sebatas sebagai gelas yang harus diisi air. Siswa mengerjakan ujian sebatas mengulang apa yang disampaikan guru.

Konsep dan praksis pendidikan kita yang nirpembebasan itu menjadi penghalang utama untuk membangun manusia yang berdimensi “personal”. Siswa selama menempuh pendidikan di sekolah sebatas dibangun menjadi individu yang tanpa pembebasan, individu yang terkungkung, individu yang hanya jadi peniru.

Kembali ke konsep IPK yang berdasarkan SK Walikota Solo harus menjadi pembiasaan keseharian, rasanya IPK masih sebatas mimpi. Dalam konsep praksis di sekolah, ide pendidikan karakter berbasis ide Foerster terbentur tembok kukuh tiadanya pembebasan bagi siswa.

Sementara di lingkungan keluarga dan lingkungan di luar keluarga dan sekolah, anak-anak, remaja dan generasi muda kita selalu disuguhi contoh-contoh karakter yang bernilai negatif. Pendidikan bagi anak, remaja dan generasi muda sekarang tentu tak sekadar materi yang disampaikan guru di sekolah. Ada “guru” yang lebih dominan bagi mereka, yaitu informasi dan contoh atau teladan.

Kita tentu ingat kisah seorang ibu di Surabaya yang diusir orang sekampung gara-gara memrotes ketidakjujuran ujian nasional di SD tempat anaknya bersekolah. Kisah lainnya, murid dikeluarkan dari sekolah gara-gara orangtua memrotes manajemen keuangan sekolah yang tidak transparan dan manipulatif. Ada pula kepala sekolah atau guru yang menggunakan otoritasnya untuk memasukkan calon siswa baru yang sebenarnya tak memenuhi standar.

Di layar televisi, anak-anak, remaja dan generasi muda kita disuguhi kisah-kisah manipulatif yang jadi “budaya” elite-elite negeri ini. Itu, informasi itu, adalah “guru sejati” bagi anak-anak, remaja dan generasi muda kita saat ini. Karakter yang mengemuka dari sekelumit kisah itu adalah:  Jujur itu ajur, manipulasi dan korupsi itu biasa, idealis dan berdasar nilai-nilai moral itu gila dan sebagainya. Ini adalah tantangan nyata bagi IPK.

Tapi, saya tetap optimistis bahwa IPK memang sudah selayaknya diterapkan mulai saat ini.  Bagaimana pun beratnya tantangan bagi IPK, kita sebagai warga negara Indonesia yang masih punya nurani dan punya keinginan kuat membangun negeri ini harus bersama-sama mendukungnya dengan memberi teladan yang baik bagi anak-anak kita. Demikian…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s